Wednesday, 18 November 2015

Contoh Judul Penelitian dan Pengembangan (R&D)

Penelitian R&D yang baik berawal dari adanya masalah atau potensi. Peneliti R&D yang peka akan menjadikan masalah atau potensi sebagai dasar untuk menciptakan produk. Produk yang dihasilkan dari penelitian R&D telah mengalami berbagai ujicoba dan revisi perbaikan dan penyempurnaan. sehingga produk hasil penelitian R&D dapat diandalkan yang berguna untuk mengatasi permasalahan atau mengoptimalkan potensi. 

Kepekaan peneliti R&D dalam mengumpulkan informasi menjadi dasar yang kuat untuk mengetahui masalah atau potensi dengan jelas. Data informasi yang terkumpul menjadi dasar untuk mendesain produk. Bila peneliti telah membuat desain, langkah selanjutnya adalah melakukan validasi atau menilai rancangan. Hasil penilaian menjadi dasar perbaikan desain yang selanjutnya diujicobakan. Peneliti R&D menindaklanjuti hasil ujicoba dengan melakukan perbaikan. Siklus ujicoba dan perbaikan berlangsung sampai produk dipastikan efektif untuk mengatasi masalah atau untuk mengoptimalkan potensi. Ujicoba pemakaian dilanjutkan pada ruang lingkup yang lebih luas sebelum produk siap diproduksi masal.

Nah, masalah atau potensi apa saja yang dapat dijadikan dasar pembuatan judul penelitian research and developmen (R&D). Mengacu pada pendapat Sugiyono, saya akan bagikan contoh-contoh judul penelitian R&D khususnya di bidang pendidikan. Judul penelitian R&D yang baik adalah mencerminkan produk yang akan dihasilkan. Di bawah ini adalah contoh judul penelitian R&D
1. Pengembangan pola pembelajaran teknologi bagi anak-anak berkebutuhan khusus.
2. Pengembangan media pembelajaran berbasis bahan bekas
3. Pengembangan media pembelajaran berbasis komputer
4. Pengembangan sistem pembelajaran Pendidikan Agama Buddha yang menyenangkan peserta didik
5. Pola pengembangan pembelajaran Pendidikan Agama Buddha berbasis sejarah perkembangan agama
6. Penyusunan buku ajar Pendidikan Agama Buddha berbasis kearifan lokal
8. Pengembangan model pendidikan guru yang beroreintasi pada kecerdasan emosional
9. Pengembangan alat kendali mutu pendidikan berbasis ajaran agama
10. Pengembangan pembelajaran dengan mendayagunakan anak yang cerdas di kelas

Di atas ada 10 contoh judul penelitian R&D di bidang pendidikan yang dapat kita coba lakukan di lingkungan pendidikan masing-masing. Judul-judul penelitian di atas sifatnya hanya referensi, anda dapat membuat judul lain yang sesuai dengan masalah dan potensi yang ada di lingkungan pendidikan masing-masing. Dari penelitian yang anda lakukan semoga tercipta produk berkualitas yang mampu mengatasi permasalahan dan siap untuk diproduksi masal atau yang mampu mengoptimalkan potensi sehingga bisa digunakan di berbagai lingkungan pendidikan lainnya. Selamat melakukan penelitian R&D.


Sumber referensi:
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Halaman: 407 - 430.

Friday, 11 September 2015

Contoh Judul Penelitian Kualitatif

Masih bingung dengan judul penelitian yang akan anda buat? Tidak ada salahnya anda membaca artikel ini yang berisi contoh-contoh judul penelitian kualitatif. Bagi calon peneliti kualitatif, terkadang buat judul penelitian di proposal pun tidak mudah. Apalagi bila belum yakin dengan masalah yang dijadikan latar belakang penelitian. Untuk itulah saya tertarik untuk berbagai pengetahuan yang saya dapat dari buku penelitian yang dibuat oleh Sugiyono. Perlu diketahui bahwa judul penelitian kualitatif dalam proposal penelitian sifatnya masih sementara. Hal ini disebabkan oleh paradigma penelitian kualitatif terhadap suatu permasalahan yang dianggap masih sementara dan bersifat holistik. Peneliti memiliki kesempatan untuk mengembangkannya sesuai dengan fakta di lapangan. Oleh karena itu, tidak heran bila pada akhirnya dalam laporan penelitian kualitatif terjadi perubahan judul. Ini menandakan peneliti telah menjelajah secara mendalam terhadap situasi sosial yang diteliti sehingga mampu mengembangkan pemahaman yang meluas dan mendalam.

Perlu juga dipahami bahwa judul penelitian kualitatif adalah lebih mengarah pada upaya untuk mengungkap fenomena dalam situasi sosial secara mendalam  dan luas, serta upaya untuk menemukan hipotesis dan teori. Ini jelas sangat berbeda dengan judul penelitian kuantitatif yang didasarkan pada masalah yang akan diteliti. Karakteristik judul penelitian kuantitatif adalah spesifik, mencerminkan masalah dan variabel yang akan diteliti. Judul penelitian kuantitatif digunakan peneliti dalam menetapkan variabel yang diteliti, teori yang digunakan, instrumen penelitian, teknik analisis, dan kesimpulannya.

Di bawah ini ada beberapa contoh judul penelitian kualitatif. Anda dapat mempelajarinya, bila cocok dengan situasi sosial yang anda teliti, judul ini bisa dipakai. Cara lain adalah, judul penelitian dibawah ini akan menimbulkan inspirasi bagi anda untuk membuat penelitian kualitatif yang menurut anda paling baik.
1. Model Perencanaan Pendidikan di Era Otonomi Daerah
2. Profesionalisme Guru Pendidikan Agama Buddha di Pedalaman Kalimantan
3. Makna Menjadi Guru Pendidikan Agama Buddha Bagi Masyarakat Jawa
4. Profil Guru Pendidikan Agama Buddha yang Efektif Mendidik Anak
5. Model Pendidikan Anti Korupsi Berbasis Buddhisme
6. Gaya Belajar Anak-anak Berprestasi
7. Makna Pendidikan Bagi Anak Jalanan

Nah, demikian artikel tentang contoh judul penelitian kualitatif. Pada intinya, judul penelitian kualitatif bisa berubah antara yang ada di proposal dengan yang di laporan hasil penelitian. Ini dikarenakan pehamanan peneliti di situasi sosial mengalami pengembangan yang semakin meluas dan mendalam. Ini juga dikarenakan peneliti telah memahami fenomena sosial yang diteliti secara lebih baik dibandingkan saat sebelum meneliti. Contoh judul penelitian kualitatif yang saya tampilkan di atas bisa dipakai oleh Anda bila situasi sosial yang diteliti sesuai. Bila tidak sama, sebaiknya contoh judul penelitian kualitatif ini menjadi stimulus untuk memunculkan kreativitas anda dalam membuat judul penelitian kualitatif yang tepat. 



Sumber Referensi "Contoh Judul Penelitian Kualitatif":
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Halaman: 290 - 292

Monday, 7 September 2015

Rumusan Masalah Penelitian Kualitatif

Buat rumusan masalah pada penelitian kualitatif menjadi salah satu bagian terpenting  yang akan menentukan proses penelitian. Rumusan masalah dalam penelitian kualitatif dibuat dalam bentuk kalimat pertanyaan. Fungsinya untuk memandu peneliti dalam mengumpulkan data di lapangan. Ada tiga cara mengumpulkan data yang umumnya digunakan peneliti kualitatif, yaitu observasi, wawancara dan dokumentasi. Selain itu, peneliti juga bisa menggunakan teknik triangulasi. Nah, dengan adanya rumusan masalah, peneliti dapat menentukan apa saja yang dijadikan obyek pengamatan, wawancara, dan dokumentasi, serta teknik triangulasi yang akan dilakukan. Oleh karena itu bagi yang ingin melakukan penelitian kualitatif harus tahu bagaimana cara buat rumusan masalah penelitian kualitatif.

Macam-macam bentuk rumusan masalah

Berdasarkan level of explanation, ada tiga macam bentuk rumusan masalah yaitu deskripsi, komparasi, dan asosiasi. 
Rumusan masalah deskripsi bentuknya berupa pertanyaan yang memandu peneliti untuk mengeksplorasi dan atau memotret situasi sosial yang akan diteliti secara menyeluruh. luas dan mendalam. Kata kunci yang digunakan adalah "Bagaimanakah". Contoh rumusan masalah deskripsi adalah: Bagaimanakah profil pendidikan tinggi keagamaan Buddha di Indonesia?
Rumusan masalah komparasi bentuknya berupa pertanyaan yang memandu peneliti membandingkan antara konteks sosial atau domain yang satu dibandingkan dengan yang lainnya. Tentu peneliti tidak asal membandingkan. Perbandingan dilakukan kepada yang selevel atau setipe. Contoh rumusan masalah komperasi adalah sebagai berikut: Adakah perbedaan dinamika murid di kelas yang diajar dengan metode sosiodrama dengan diskusi?
Rumusan masalah asosiasi bentuknya berupa pertanyaan yang memandu peneliti mengkontruksi hubungan antara situasi sosial atau domain yang satu dengan yang lainnya. Kata kunci yang digunakan adalah "Adakah". Ada tiga macam bentuk rumusan masalah asosiasi yaitu simetris, kausal, dan reciprocal atau interaksi. Hubungan simetris artinya hubungan suatu gejalan yang munculnya bersamaan, bukan sebab akibat atau interaksi. Contohnya: Adakah hubungan antara suara cecak di rumah dengan kedatangan tamu. Hubungan kausal atau sebab akibat umumnya digunakan dalam penelitian kuantitatif sehingga terdapat variabel independen (mempengaruhi) dengan variable dependen (dipengaruhi). Contoh rumusan masalah kausal : adakah pengaruh gaya kepemimpinan kepala sekolah dengan kedisiplinan guru? Rumusan masalah reciprocal atau interaksi yang saling mempengaruhi. Contoh rumusan masalah reciprocal: Adakah hubungan antara banyaknya vihara di desa dengan minat menjadi bhikkhu?

Rumusan masalah dalam penelitian kualitatif merupakan fokus penelitian yang sifatnya sementara dan berkembang saat peneliti masuk pada situasi sosial tertentu. Rumusan masalah penelitian penelitian dimaksudkan agar peneliti lebih memahami situasi sosial yang remang-remang, tidak teramati, dinamis, dan kompleks. Artinya peneliti setelah terjun di lapangan menjadi lebih jelas dengan situasi sosial yang diteliti. Sambil mengumpulkan data, peneliti mengembangkan fokus penelitian.

Cukup sekian penjelasan rumusan masalah penelitian kualitatif. Intinya ada tiga macam bentuk rumusan masalah penelitian kualitatif yaitu rumusan masalah deskriptif, rumusan masalah komparatif, dan rumusan masalah asosialif. Rumusan masalah asosiatif terbagi menjadi tiga yaitu simetris, kausal, dan interkasi. Harus diingat juga, bahwa rumusan masalah penelitian kualitatif dianggap sebagai fokus penelitian yang sifatnya sementara dan berkembang seiring dengan masuknya peneliti di situasi sosial yang diteliti. Semoga penjelasan saya bisa dipahami dan bermanfaat untuk meyakinkan anda meneliti dengan pendekatan kualitatif.


Sumber: Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Halaman: 288 - 190

Monday, 3 August 2015

Teknik Triangulasi Pada Penelitian Kualitatif

Seperti yang telah saya sampaikan di materi sebelumnya, mengumpulkan data kualitatif dapat dilakukan dengan observasi, wawancara, dan dokumentasi. Ada beragam teknik pengumpulan data dalam penelitian kualitatif yang bisa dipilih peneliti. Namun pada umumnya peneliti kualitatif memakai gabungan teknik atau cara dalam mengumpulkan data. Teknik pengumpulan data kualitatif yang dilakukan dengan menggabungkan berbagai teknik dan sumber data dikenal dengan istilah triangulasi. 

Triangulasi bagi peneliti kualitatif bukan hal yang asing. Triangulasi menjadi menu utama yang dipilih dalam mengumpulkan data kualitatif agar valid. Tapi bagi kita yang sedang belajar penelitian atau riset kualitatif, sangat perlu memahami dan berusaha menguasainya. Untuk itu, saya akan berbagi pemahaman tentang teknik pengumpulan data kualitatif melalui triangulasi. Harapan saya adalah dengan memahami materi ini, anda dapat menguasai cara-cara mengumpulan data kualitatif dengan teknik triangulasi.

Seperti telah dijelaskan di atas, triangulasi merupakan cara-cara dalam mengumpulkan data penelitian kualitatif dengan cara menggabungkan berbagai teknik dan sumber data. Umumnya ada tiga teknik yang digabungkan untuk mengumpulkan data kualitatif yaitu observasi, wawancara, dan dokumentasi. Ketiga teknik tersebut bisa dilakukan pada satu sumber data. Sehingga selain melalukan observasi, peneliti dapat sekaligus melakukan wawancara dan dokumentasi pada orang yang diajdikan sumber data. 

Sedangkan bila menggabungkan sumber data, peneliti dapat mengecek tiap jawaban antara narasumber yang satu dengan narasumber yang lain, ada persamaan atau tidak, secara lebih mendalam dapat ditemukan mengapa jawabannya bisa berbeda atau sama. Hal ini dilakukan dengan cara wawancara yang mendalam. Peneliti yang menggunakan triangulasi, selain mengumpulkan data juga menguji kredibilitas data.

Sesuai pendapat Susan, triangulasi dilakukan bukan untuk menemukan data yang benar atau salah, namun lebih kearah upaya memperdalam pemahaman peneliti terhadap apa saja yang ditemukan pada saat mengumpulkan data kualitatif. Hal yang senada disampaikan oleh Bogdan bahwa peneliti kualitatif bukan semata-mata mencari kebenaran, namun lebih pada usaha mencari tahu bagaimana subyek penelitian memahami lingkungan sekitarnya. Mathinson dan Patton memberi pendapat yang saling melengkapi terkait hasil dari pengumpulan data dengan triangulasi. Peneliti yang menggunakan teknik triangulasi akan mendapatkan data yang kuat dibandingkan dengan menggunakan satu pendekatan saja, karena data yang terkumpul dengan teknik triangulasi adalah lebih konsisten, tuntas, dan pasti. 

Nah, itulah teknik triangulasi yang bisa digunakan dalam mengumpulkan data kualitatif. Intinya peneliti dapat menggabungkan teknik observasi, wawancara, dan dokumentasi pada satu sumber data atau membandingkan data yang terkumpul dengan satu teknik pada sumber data yang berbeda-beda. Selamat mempraktikkan teknik triangulasi pada penelitian kualitatif yang sedang atau akan anda kerjakan. Semoga sukses.

Sumber: Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Halaman: 330 - 332.

Cara Mengumpulkan Data Kualitatif Dengan Wawancara

Pada kesempatan ini saya berbagi materi yang wajib dipahami dan kuasai oleh peneliti kualitatif. Iya, teknik pengumpulan data kualitatif dengan wawancara merupakan keterampilan yang harus dikuasai peneliti atau periset kualitatif. Keberhasilan peneliti dalam mengumpulkan data yang valid, berpotensi besar menghasilkan penelitian kualitatif yang berkualitas. Wawancara bukan menjadi satu-satunya teknik pengumpulan data penelitian kualitatif, ada observasi yang telah dibahas sebelumnya, dan dokumentasi yang akan dibahas pada materi selanjutnya. Ketiganya memiliki petan yang vital dalam penelitian kualitatif. Agar pembaca menjadi jelas dan paham dalam menggunakan wawancara sebagai teknik pengumpulan data, saya akan jabarkan sejelas-jelasnya.

Teknik Pengumpulan Data Kualitatif Dengan Wawancara
sumber: www.ahok.org

Ada berbagai alasan bahwa wawancara digunakan sebagai teknik pengumpulan data kualitatif. Peneliti yang belum menemukan permasalahan utama yang akan diteliti atau yang ingin mengetahui secara mendalam tentang hal-hal yang sedang diteliti dapat menggunakan wawancara sebagai solusinya. Hal ini tidak bisa ditemukan bila peneliti hanya menggunakan teknik observasi. Ada juga asumsi yang menyatakan bahwa wawancara adalah hatinya penelitian sosial, wawancara menjadi komponen yang sangat vital dalam penelitian kualitatif, 

Wawancara bisa dilakukan secara terstruktur, semi struktur, dan bebas. Bila peneliti sudah sudah yakin dengan informasi yang akan diperoleh, wawancara terstruktur menjadi pilihan yang tepat. Peneliti terlebih dahulu membuat instrumen berupa pertanyaan-pertanyaan beserta alternatif jawabannya. Oleh karena itu, pengumpulan data bisa diwakilkan kepada orang lain namun terlebih dahulu harus diarahkan agar memiliki keterampilan yang sama dengan peneliti sesungguhnya. 

Sebaliknya bila peneliti ingin mendapatkan informasi mendalam, wawancara semi-struktur menjadi pilihan yang tepat. Narasumber diberikan kesempatan untuk menyampaikan pendapat atau ide-ide. Oleh karena itu, instrumennya tidak sekaku wawancara terstruktur.

halnya bila peneliti menjumpai kondisi yang tidak jelas, termasuk informasi yang akan didapat maka peneliti dapat memilih wawancara tidak terstruktur. Peneliti hanya menyiapkan garis-garis besar permasalahan yang akan ditanyakan. Peneliti dapat mengawali wawancara dengan hal-hal yang tidak terkait penelitian, bila ada kesempatan untuk hal-hal yang berkaitan dengan penelitian, peneliti bisa menanyakan hal itu kepada narasumber. Sehingga narasumber tidak menyadari bahwa peneliti sedang menggali informasi.

Alangkah baiknya wawancara dilakukan dengan tatap muka. Namun bila narasumber sangat sibuk, peneliti bisa mencari alternatif lain, misalnya melalui telepon atau email. Kemampuan peneliti membaca situasi sangat dibutuhkan agar bisa menentukan waktu dan tempat wawancara dengan narasumber. Pada saat mengajukan pertanyaan, hindari pertanyaan yang bisa dimaknai ganda atau bias oleh narasumber. Mengawali atau membuka pertanyaan juga sangat menentukan proses dan hasil wawancara. Setelah selesai, sebaliknya peneliti mengkonfirmasi ikhtisar hasil wawancara. Bila peneliti menguasai hal-hal di atas maka data yang dikumpulkan kemungkinan besar valid. Hasil wawancara selanjutnya ditulis untuk ditindaklanjuti seperti reduksi data, data display, dan simpulan.

Ada beragam jenis pertanyaan yang sebaiknya ditanyakan pada narasumber. Patton dalam Molleong menyebutkan setidaknya ada enam. Pertama, pertanyaan berkaitan dengan pengalaman. Kedua, pertanyaan berkaitan dengan pendapat. Ketiga, pertanyaan berkaitan dengan perasaan. Keempat, pertanyaan berkaitan dengan  pengetahuan. Kelima, pertanyaan berkaitan dengan indera. Terakhir, pertanyaan berkaitan dengan latar belakang atau demografi.

Untuk menunjang proses wawancara, peneliti perlu menyediakan peralatan wawancara dengan baik. Buku catatan digunakan untuk menulis point-point penting hasil wawancara. Alat perekam digunakan untuk merekam wawancara sehingga ketika peneliti akan menulis hasil wawancara dapat memutar ulang. Kamera digunakan untuk memfoto proses wawancara.

Nah, itulah hal-hal yang perlu saya sampaikan perihal wawancara sebagai teknik pengumpulan data kualitatif. Materi ini melengkapi pembahasan sebelumnya yaitu teknik pengumpulan data dengan observasi. Setelah membaca materi ini, saya sarankan anda membaca tenik pengumpulan data kualitatif dengan dokumentasi. Semoga anda dapat memahami dan menguasai keterampilan ini agar data yang terkumpul adalah data yang valid serta anda dapat menjadi peneliti kualitatif yang berkualitas 

Sumber:
Sugiyono. 2012. Metode Penelitian Pendidikan Pendekatan Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung: Alfabeta. Halaman: 317 - 329